Simulasi CAT – Berikut tips dan trik menghadapi TPA dan TBI SPMB PKN STAN 2026.
Setelah melewati Seleksi Kompetensi Dasar atau SKD, perjuangan peserta Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Politeknik Keuangan Negara STAN belum selesai. Peserta yang dinyatakan lolos SKD masih harus menghadapi Seleksi Lanjutan yang menjadi salah satu tahapan penting untuk menentukan kelulusan.
Pada SPMB PKN STAN 2026, Seleksi Lanjutan bagi lulusan pendidikan menengah/sederajat terdiri atas Tes Potensi Akademik (TPA), Tes Bahasa Inggris (TBI), Tes Psikologi, Tes Kesehatan, dan Tes Kebugaran. TPA mencakup kemampuan verbal, numerik, dan figural. Sementara itu, TBI mencakup structure and written expression serta reading comprehension.
Khusus TPA dan TBI, peserta perlu memberikan perhatian lebih. Dalam perhitungan nilai gabungan Seleksi Lanjutan PKN STAN 2026, TPA memiliki bobot 42 persen dan TBI sebesar 28 persen. Sementara itu, Tes Kesehatan dan Tes Kebugaran masing-masing memiliki bobot 15 persen. Peserta juga tetap harus memenuhi kriteria Tes Psikologi.
Dengan bobot tersebut, persiapan TPA dan TBI sebaiknya tidak dilakukan secara mendadak. Lalu, bagaimana strategi yang dapat digunakan untuk menghadapi kedua tes tersebut?
Mengenal TPA dan TBI PKN STAN 2026
Sebelum membahas strategi, peserta perlu memahami terlebih dahulu karakter masing-masing tes.
TPA dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir melalui tiga kelompok soal, yaitu verbal, numerik, dan figural. Kemampuan tersebut tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kecepatan memahami pola dan mengambil keputusan.
Sementara itu, TBI menguji kemampuan Bahasa Inggris melalui dua komponen, yaitu structure and written expression dan reading comprehension. Dengan demikian, peserta perlu menguasai dasar tata bahasa sekaligus mampu memahami informasi dalam teks berbahasa Inggris.
Perbedaan karakter tersebut membuat strategi belajar TPA dan TBI juga tidak bisa sepenuhnya disamakan.
TPA membutuhkan banyak latihan soal dan pengenalan pola, sedangkan TBI membutuhkan kombinasi antara penguasaan grammar, kosakata, kemampuan membaca, dan latihan memahami konteks.
1. Jangan Belajar TPA dengan Cara Menghafal
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan peserta ketika mempersiapkan TPA adalah mencoba menghafalkan terlalu banyak tipe soal.
Padahal, inti TPA bukan menghafalkan soal, melainkan memahami pola penyelesaian.
Misalnya, ketika mengerjakan soal numerik, peserta menemukan pola tertentu pada deret angka. Jika hanya menghafalkan satu contoh soal, peserta akan kesulitan ketika angka atau bentuk pertanyaannya diubah.
Sebaliknya, apabila peserta memahami konsep pola bilangan, perbandingan, hubungan antarangka, atau operasi tertentu, variasi soal akan lebih mudah dihadapi.
Karena itu, setelah mengerjakan sebuah soal, jangan langsung berpindah ke soal berikutnya.
Tanyakan kepada diri sendiri:
- Mengapa jawaban tersebut benar?
- Bagaimana cara menemukan jawabannya?
- Apakah terdapat cara yang lebih cepat?
- Apakah pola tersebut dapat muncul dalam bentuk soal lain?
Kebiasaan tersebut akan membuat latihan menjadi jauh lebih efektif.
2. Strategi TPA Verbal: Pahami Hubungan, Bukan Sekadar Kata
TPA verbal berkaitan dengan kemampuan memahami hubungan antarkata, informasi, maupun konsep.
Pada bagian ini, peserta dapat menemukan soal yang menguji kemampuan analogi, hubungan kata, atau penalaran verbal.
Tips pertama adalah memahami hubungan antara dua kata yang diberikan.
Misalnya:
Dokter : Rumah Sakit = Guru : …
Hubungan yang dicari bukan sekadar “dokter berhubungan dengan rumah sakit”, tetapi hubungan profesi dengan tempat bekerja. Dengan pola tersebut, peserta dapat mencari pasangan yang mempunyai hubungan serupa.
Kesalahan yang sering terjadi adalah peserta memilih jawaban hanya karena kedua kata terlihat memiliki hubungan. Padahal, hubungan yang dicari dalam soal analogi harus memiliki pola yang sama.
Karena itu, biasakan menggunakan kalimat:
“A berhubungan dengan B karena…”
Kemudian terapkan hubungan tersebut pada pilihan jawaban.
Trik mengerjakan verbal
Jika menemukan soal verbal yang sulit, jangan terlalu lama terpaku pada satu pertanyaan.
Tentukan terlebih dahulu jenis hubungannya:
- profesi dengan tempat kerja;
- benda dengan fungsi;
- sebab dengan akibat;
- bagian dengan keseluruhan;
- sinonim atau antonim;
- objek dengan karakteristik;
- aktivitas dengan hasil.
Dengan mengenali jenis hubungan, proses eliminasi jawaban dapat menjadi lebih cepat.
3. Strategi TPA Numerik: Kecepatan Berhitung Sangat Penting
TPA numerik menjadi salah satu bagian yang membutuhkan kombinasi kemampuan konsep dan kecepatan.
Peserta sebaiknya menguasai operasi dasar seperti:
- pecahan;
- persentase;
- perbandingan;
- rasio;
- perpangkatan;
- akar;
- operasi campuran;
- deret angka;
- aritmetika dasar.
Namun, jangan berhenti pada kemampuan menghitung.
Yang tidak kalah penting adalah kemampuan memperkirakan.
Misalnya, apabila pilihan jawaban memiliki perbedaan yang sangat besar, peserta tidak selalu harus menghitung sampai beberapa angka di belakang koma. Estimasi terkadang sudah cukup untuk menentukan pilihan.
Gunakan eliminasi
Misalnya sebuah soal meminta hasil perkalian tertentu, tetapi empat pilihan jawaban memiliki rentang yang sangat berbeda.
Daripada menghitung secara panjang, perkirakan terlebih dahulu hasilnya.
Jika hasilnya jelas berada di sekitar 500, pilihan 50 atau 5.000 dapat langsung dieliminasi.
Teknik seperti ini sangat berguna ketika waktu terbatas.
Latih hitungan tanpa kalkulator
Jangan membangun kebiasaan bergantung pada kalkulator ketika berlatih.
Biasakan menghitung:
- 10%, 20%, 25%, 50%;
- pecahan sederhana;
- perkalian angka dua digit;
- pembagian;
- perbandingan;
- persentase kenaikan dan penurunan.
Tujuannya bukan sekadar menjadi cepat menghitung, tetapi mengurangi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan soal.
4. Strategi Deret Angka: Cari Pola Sederhana Terlebih Dahulu
Ketika menemukan deret angka, jangan langsung mencari pola yang rumit.
Mulailah dari:
Pola 1: selisih
Contoh:
2, 5, 8, 11, …
Selisihnya adalah +3.
Pola 2: perkalian
2, 4, 8, 16, …
Setiap angka dikalikan 2.
Pola 3: selisih bertingkat
2, 5, 10, 17, 26, …
Selisihnya:
+3, +5, +7, +9.
Pola 4: kombinasi
Apabila pola sederhana tidak ditemukan, barulah periksa kemungkinan adanya pola bergantian atau kombinasi operasi.
Kuncinya adalah jangan langsung berasumsi bahwa sebuah soal memiliki pola yang sangat rumit.
Dalam kondisi ujian, waktu merupakan sumber daya penting.
5. Strategi TPA Figural: Jangan Mengandalkan Intuisi Saja
Soal figural sering membuat peserta merasa “sudah melihat polanya”, padahal belum tentu.
Karena itu, biasakan memeriksa perubahan gambar secara sistematis.
Perhatikan:
- posisi objek;
- jumlah objek;
- arah rotasi;
- bentuk;
- ukuran;
- arsiran;
- perpindahan posisi;
- penambahan atau pengurangan elemen.
Misalnya sebuah objek selalu berputar 90 derajat searah jarum jam. Jangan hanya melihat bentuk keseluruhan. Perhatikan bagian kecil yang mengalami perubahan.
Gunakan metode perbandingan
Ketika menghadapi soal figural, bandingkan gambar pertama dan kedua.
Kemudian tanyakan:
“Apa yang berubah?”
Setelah menemukan perubahan, tanyakan:
“Apakah perubahan yang sama diterapkan pada pasangan gambar berikutnya?”
Cara berpikir seperti ini biasanya lebih efektif daripada mencoba menebak gambar berdasarkan kesan visual.
6. Jangan Menghabiskan Waktu pada Satu Soal TPA
Salah satu keterampilan penting dalam tes kemampuan akademik adalah mengetahui kapan harus meninggalkan soal.
Misalnya Anda menemukan satu soal numerik yang membutuhkan perhitungan panjang.
Jika setelah beberapa langkah Anda masih belum menemukan pola, tandai dan lanjutkan.
Jangan sampai satu soal mengorbankan kesempatan mengerjakan beberapa soal lain yang sebenarnya lebih mudah.
Gunakan prinsip:
mudah → sedang → sulit.
Kerjakan terlebih dahulu soal yang sudah Anda pahami.
Setelah soal-soal mudah selesai, gunakan sisa waktu untuk kembali ke soal yang lebih sulit.
Strategi ini bukan berarti mengabaikan soal sulit, tetapi mengatur penggunaan waktu agar tidak terjebak pada satu pertanyaan.
Tips dan Trik Menghadapi TBI PKN STAN 2026
Berbeda dengan TPA, TBI membutuhkan pendekatan belajar yang lebih konsisten.
Peserta perlu membangun kemampuan Bahasa Inggris secara bertahap karena dua bagian yang diujikan adalah structure and written expression serta reading comprehension.
7. Kuasai Grammar yang Paling Sering Digunakan
Untuk bagian structure and written expression, peserta tidak perlu mencoba menghafalkan seluruh aturan grammar Bahasa Inggris.
Fokus terlebih dahulu pada struktur yang umum digunakan.
Beberapa materi yang perlu diperkuat antara lain:
- subject-verb agreement;
- tenses;
- passive voice;
- conditional sentence;
- pronoun;
- conjunction;
- preposition;
- adjective dan adverb;
- gerund dan infinitive;
- parallel structure;
- comparative dan superlative;
- clause;
- modifier.
Misalnya:
The students ___ studying in the library.
Peserta harus mampu mengenali bahwa subjek “the students” merupakan bentuk jamak sehingga membutuhkan bentuk kata kerja yang sesuai.
Konsep sederhana seperti ini harus menjadi refleks.
Semakin cepat peserta mengenali kesalahan struktur, semakin banyak waktu yang dapat digunakan untuk soal berikutnya.
8. Jangan Hanya Menghafalkan Rumus Grammar
Grammar memang penting, tetapi jangan menjadikan belajar grammar sekadar menghafalkan rumus.
Misalnya, daripada hanya menghafalkan:
Subject + have/has + V3
cobalah memahami kapan struktur tersebut digunakan.
Dengan memahami konteks penggunaannya, peserta akan lebih mudah mengidentifikasi kesalahan ketika struktur kalimat dibuat lebih panjang.
Hal ini sangat berguna untuk soal structure and written expression karena peserta dapat diminta menemukan bagian kalimat yang tidak tepat.
9. Perbanyak Kosakata, tetapi Gunakan Strategi
Kosakata atau vocabulary merupakan modal penting ketika menghadapi reading comprehension.
Namun, menghafalkan ratusan kata secara acak bukan strategi yang efisien.
Lebih baik kelompokkan kosakata berdasarkan tema.
Misalnya:
Ekonomi
- revenue
- expenditure
- inflation
- investment
- growth
- productivity
Pemerintahan
- policy
- regulation
- government
- institution
- public service
- administration
Pendidikan
- education
- curriculum
- student
- learning
- assessment
- achievement
Cara tersebut membuat kata lebih mudah diingat karena memiliki konteks.
10. Biasakan Membaca Teks Bahasa Inggris Setiap Hari
Reading comprehension tidak dapat dikuasai hanya dengan menghafalkan vocabulary.
Peserta perlu membangun kemampuan memahami gagasan utama.
Mulailah dengan membaca teks pendek.
Setelah membaca satu paragraf, coba jawab:
“Apa inti paragraf ini?”
Kemudian tingkatkan secara bertahap ke artikel yang lebih panjang.
Tidak harus membaca berjam-jam. Konsistensi lebih penting.
Misalnya:
20–30 menit membaca Bahasa Inggris setiap hari.
Setelah selesai membaca, catat:
- main idea;
- supporting detail;
- unfamiliar vocabulary;
- conclusion;
- hubungan antarparagraf.
Kebiasaan tersebut membantu meningkatkan kemampuan membaca sekaligus memperkaya kosakata.
11. Jangan Selalu Menerjemahkan Setiap Kata
Ini salah satu kesalahan yang cukup sering dilakukan ketika mengerjakan reading comprehension.
Ketika menemukan kata yang tidak dikenal, peserta langsung berhenti dan mencoba menerjemahkannya.
Akibatnya, waktu habis untuk satu kata.
Padahal, konteks kalimat sering kali sudah memberikan petunjuk mengenai maknanya.
Contoh:
The company’s revenue increased significantly, despite the decline in consumer demand.
Jika Anda tidak mengetahui arti “significantly”, Anda masih dapat memahami bahwa revenue mengalami peningkatan, meskipun permintaan konsumen menurun.
Jadi, jangan selalu menerjemahkan kata per kata.
Fokus terlebih dahulu pada makna keseluruhan kalimat dan paragraf.
12. Cari Main Idea Sebelum Detail
Ketika mendapatkan teks panjang, jangan langsung membaca setiap kalimat dengan kecepatan yang sama.
Pertama, pahami:
Topiknya apa?
Kemudian:
Apa yang ingin disampaikan penulis?
Setelah itu, baru cari informasi detail yang diperlukan oleh pertanyaan.
Misalnya pertanyaan berbunyi:
“According to the passage, why did the government implement the policy?”
Anda tidak perlu menghafalkan seluruh teks.
Cari bagian yang membahas alasan pemerintah menerapkan kebijakan tersebut.
Strategi membaca berdasarkan pertanyaan dapat menghemat waktu.
13. Pahami Kata Penghubung dalam Teks
Kata penghubung dapat menjadi petunjuk penting dalam reading comprehension.
Perhatikan kata seperti:
- however;
- therefore;
- although;
- nevertheless;
- consequently;
- in contrast;
- furthermore;
- because;
- while;
- despite.
Kata-kata tersebut menunjukkan hubungan logis antaride.
Contohnya:
however menunjukkan pertentangan.
therefore menunjukkan akibat atau kesimpulan.
because menunjukkan sebab.
in contrast menunjukkan perbandingan atau perbedaan.
Jika memahami kata penghubung, struktur argumen dalam teks menjadi lebih mudah dipahami.
Strategi Gabungan TPA dan TBI
14. Jangan Membagi Waktu Belajar Secara Sama Rata
Karena bobot TPA dalam nilai akhir lebih besar daripada TBI, yaitu 42 persen berbanding 28 persen, pembagian waktu belajar dapat mempertimbangkan bobot tersebut.
Namun, jangan berarti seluruh waktu belajar hanya digunakan untuk TPA.
Contohnya, dalam satu minggu peserta dapat membuat pola:
Senin: TPA numerik
Selasa: TBI grammar
Rabu: TPA verbal dan figural
Kamis: TBI reading
Jumat: latihan campuran
Sabtu: simulasi
Minggu: evaluasi kesalahan
Yang paling penting adalah konsistensi.
15. Buat Buku Kesalahan atau Error Log
Ini salah satu strategi yang sangat berguna tetapi sering diabaikan.
Setiap kali salah mengerjakan soal, jangan hanya melihat jawaban yang benar.
Catat:
Soal → Jawaban saya → Jawaban benar → Penyebab kesalahan → Cara menghindari kesalahan.
Contohnya:
Salah karena terburu-buru membaca kata “except”.
Kesalahan seperti ini berbeda dengan:
Salah karena tidak memahami konsep subject-verb agreement.
Keduanya membutuhkan solusi yang berbeda.
Kesalahan pertama membutuhkan peningkatan ketelitian.
Kesalahan kedua membutuhkan pembelajaran konsep.
Dengan membuat error log, peserta dapat mengetahui kelemahan secara lebih objektif.
16. Latihan Menggunakan Timer
Jangan hanya berlatih dengan target:
“Hari ini saya mengerjakan 50 soal.”
Tambahkan target waktu:
“Saya harus menyelesaikan 50 soal dalam waktu tertentu.”
Tujuannya adalah membangun kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan waktu.
Latihan tanpa timer dapat membuat peserta merasa mampu mengerjakan soal, tetapi belum tentu siap menghadapi situasi ujian sebenarnya.
17. Simulasikan Kondisi Ujian
Minimal beberapa kali sebelum hari pelaksanaan, lakukan simulasi secara penuh.
Matikan notifikasi ponsel.
Duduk di meja.
Gunakan laptop atau komputer.
Gunakan timer.
Jangan membuka catatan.
Jangan mencari jawaban ketika ragu.
Setelah selesai, baru lakukan evaluasi.
Dengan cara tersebut, Anda tidak hanya melatih kemampuan akademik, tetapi juga membangun stamina konsentrasi.
18. Gunakan Strategi “Skip, Mark, Return”
Ketika menemukan soal yang sulit, gunakan tiga tahap:
Skip
Lewati sementara jika belum menemukan jalan penyelesaian.
Mark
Tandai soal tersebut agar mudah ditemukan kembali.
Return
Kembali setelah soal yang lebih mudah selesai.
Strategi ini sangat penting karena tes bukan hanya menguji apakah peserta mengetahui jawaban, tetapi juga bagaimana peserta menggunakan waktu yang tersedia.
19. Jangan Mengejar Kesempurnaan pada Satu Materi
Ada kecenderungan peserta menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk memperbaiki satu kelemahan.
Misalnya, merasa lemah dalam numerik kemudian menghabiskan seluruh waktu belajar untuk numerik.
Padahal, TPA memiliki tiga komponen dan TBI memiliki dua komponen.
Targetnya bukan membuat satu bagian sempurna sementara bagian lain tertinggal.
Target yang lebih realistis adalah meningkatkan kemampuan secara merata dan mengetahui bagian mana yang paling banyak memberikan kesalahan.
20. Persiapkan TPA dan TBI Bersamaan dengan Tes Lain
Hal yang tidak boleh dilupakan adalah Seleksi Lanjutan PKN STAN 2026 tidak hanya terdiri atas TPA dan TBI.
Selain kedua tes tersebut, terdapat Tes Psikologi, Tes Kesehatan, dan Tes Kebugaran. Dalam bobot nilai akhir, TPA menyumbang 42 persen, TBI 28 persen, kesehatan 15 persen, dan kebugaran 15 persen. Peserta juga harus memenuhi kriteria Tes Psikologi.
Jadi, jangan sampai terlalu fokus belajar TPA dan TBI sampai mengabaikan kondisi fisik.
Mulai menjaga pola tidur, olahraga, dan pola makan sejak persiapan.
Contoh Pola Belajar 14 Hari
Bagi peserta yang memiliki waktu relatif singkat, berikut contoh pola latihan dua minggu.
Hari 1–3: TPA Dasar
Fokus:
- verbal;
- aritmetika;
- deret;
- analogi;
- figural.
Target utamanya adalah memahami pola soal.
Hari 4–6: TBI Dasar
Fokus:
- tenses;
- subject-verb agreement;
- clause;
- conjunction;
- vocabulary;
- reading comprehension.
Jangan hanya menghafal teori. Langsung gunakan dalam latihan soal.
Hari 7: Simulasi
Kerjakan simulasi TPA dan TBI dengan timer.
Setelah selesai, kelompokkan kesalahan:
- konsep;
- ketelitian;
- waktu;
- vocabulary;
- grammar.
Hari 8–10: Perbaikan Kelemahan
Jika ternyata kesalahan terbesar terdapat pada numerik, fokuskan latihan pada numerik.
Jika reading comprehension menjadi kelemahan, tingkatkan latihan membaca.
Jangan mengulang seluruh materi secara sama rata.
Hari 11–12: Latihan Campuran
Kerjakan soal dengan komposisi campuran seperti kondisi ujian.
Mulai mengurangi ketergantungan pada pembahasan ketika sedang mengerjakan.
Hari 13: Simulasi Penuh
Buat kondisi semirip mungkin dengan ujian.
Jangan membuka catatan.
Gunakan timer.
Kerjakan dari awal sampai selesai.
Hari 14: Evaluasi dan Recovery
Jangan menjadikan hari terakhir sebagai hari untuk belajar mati-matian.
Review:
- rumus penting;
- grammar penting;
- vocabulary yang sering salah;
- tipe soal yang masih membingungkan.
Kemudian prioritaskan tidur dan kondisi tubuh.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Ada beberapa kesalahan yang sering membuat persiapan menjadi kurang efektif.
Belajar hanya dari pembahasan
Melihat pembahasan memang membantu memahami jawaban, tetapi tidak otomatis membuat kita mampu mengerjakan soal serupa.
Setelah melihat pembahasan, tutup jawabannya dan kerjakan kembali.
Terlalu sering berganti sumber belajar
Satu sumber yang dipelajari secara mendalam sering kali lebih bermanfaat daripada menggunakan terlalu banyak sumber tetapi tidak ada yang selesai.
Hanya mengejar jumlah soal
Seribu soal yang dikerjakan tanpa evaluasi belum tentu lebih bermanfaat daripada beberapa ratus soal yang dianalisis kesalahannya.
Mengabaikan kemampuan Bahasa Inggris
TBI memiliki bobot 28 persen dalam nilai gabungan Seleksi Lanjutan. Karena itu, kemampuan Bahasa Inggris tidak sebaiknya diperlakukan sebagai pelengkap.
Belajar sampai begadang
Kelelahan dapat menurunkan konsentrasi dan kecepatan berpikir.
Terutama menjelang ujian, menjaga kondisi tubuh merupakan bagian dari persiapan.
Yang Perlu Dipersiapkan Menjelang Seleksi
Untuk SPMB PKN STAN 2026, peserta perlu memperhatikan jadwal resmi karena Seleksi Lanjutan dijadwalkan pada 20–25 Oktober 2026, setelah pengumuman hasil SKD dan jadwal Seleksi Lanjutan pada 8–13 Oktober 2026.
Artinya, peserta yang sedang mengikuti rangkaian SPMB 2026 tidak perlu menunggu hasil SKD untuk mulai mempersiapkan TPA dan TBI.
Justru, masa sebelum pengumuman dapat dimanfaatkan untuk mulai berlatih.
Ketika hasil SKD diumumkan, peserta yang lolos tidak perlu memulai dari nol.
TPA dan TBI Bukan Sekadar Tes Pengetahuan
Hal yang perlu dipahami peserta adalah TPA dan TBI bukan hanya persoalan “siapa yang paling pintar”.
Kedua tes juga menuntut kemampuan mengatur waktu, membaca pola, mengambil keputusan, menjaga konsentrasi, dan menghindari kesalahan sederhana.
Peserta yang memahami konsep tetapi menghabiskan terlalu banyak waktu pada satu soal dapat kehilangan kesempatan mengerjakan soal lainnya.
Begitu pula peserta yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris cukup baik tetapi membaca terlalu lambat dapat menghadapi persoalan manajemen waktu.
Karena itu, latihan harus mencakup tiga hal:
paham materi + cepat mengerjakan + teliti mengambil keputusan.
Penutup
Seleksi TPA dan TBI merupakan bagian penting dari Seleksi Lanjutan SPMB PKN STAN 2026. TPA mencakup kemampuan verbal, numerik, dan figural, sedangkan TBI mencakup structure and written expression serta reading comprehension. Dalam nilai gabungan Seleksi Lanjutan, TPA memiliki bobot 42 persen dan TBI 28 persen.
Karena itu, persiapannya sebaiknya dilakukan secara terencana.
Untuk TPA, fokuslah pada pemahaman pola, kemampuan numerik, penalaran verbal, dan analisis figural. Untuk TBI, perkuat grammar, vocabulary, kemampuan memahami konteks, dan reading comprehension.
Jangan lupa untuk menggunakan timer, membuat catatan kesalahan, melakukan simulasi, dan mengevaluasi perkembangan secara berkala.
Yang tidak kalah penting, jangan hanya mempersiapkan diri untuk TPA dan TBI. Seleksi Lanjutan PKN STAN juga mencakup Tes Psikologi, Kesehatan, dan Kebugaran. Karena itu, persiapan akademik perlu berjalan bersamaan dengan persiapan fisik dan mental.
Pada akhirnya, persiapan yang baik bukan berarti harus belajar sepanjang hari. Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang perlu dipelajari, berlatih secara konsisten, mengevaluasi kesalahan, dan mampu mempertahankan performa ketika berada dalam kondisi ujian.
Jangan lupa untuk mengunjungi link-link berikut agar persiapan seleksi kalian lebih matang, ya!
